Tawa Bupati Annisa, Hangatnya  Orang Tua di Tengah Harapan Sekolah Rakyat

DHARMASRAYA, POSINFO – Gelak tawa itu pecah tanpa dibuat-buat di antara deretan siswa Sekolah Rakyat yang sedang menikmati kebersamaan. Seorang bupati tampak larut dalam percakapan ringan. Sesekali ia menepuk bahu seorang anak, lalu tertawa bersama ketika mendengar celoteh polos yang mengundang senyum, dengan menggunakan bahasa inggris.

Senyum dan semangat anak-anak itu seolah menjadi jawaban atas perjuangan panjang  sang bupati yang selama berbulan-bulan ia tempuh untuk menghadirkan Sekolah Rakyat di Dharmasraya.

Lokasi di sekitaran Pulau Sawah Sungai Kambut itu dua bulan lalu bahkan masih hamparan tanah kini sudah berubah menjadi  megah lengkap dengan semua fasilitas penunjang.

Tak ada sekat jabatan pada momen itu. Yang terlihat hanyalah kehangatan seorang pemimpin yang hadir bukan sekadar untuk meninjau, melainkan untuk mendengarkan, menyapa, dan menemani serta menghadirkan kehangatan bagi putra putri negri ini.

“Mereka semua adalah masa depan negeri ini, dipundak mereka tertompang sebuah harapan dan impian besar untuk kemajuan cita-cita bangsa,” ucap Bupati Annisa Suci Ramadhani.

Bagi sebagian siswa Sekolah Rakyat, kesempatan memperoleh perhatian dari seorang pemimpin daerah menjadi pengalaman yang membekas. Sapaan sederhana, pertanyaan tentang cita-cita, hingga candaan ringan menciptakan suasana yang akrab. Wajah-wajah yang semula tampak canggung perlahan berubah menjadi senyum lepas.

Berita Terkait: Senyum Ratusan Siswa Obati Rasa Lelah Bupati Anissa

Di momen seperti itulah, sosok bupati seakan menjalankan peran yang lebih dari sekadar kepala daerah. Ia hadir memberikan rasa aman, perhatian, dan dorongan moral serta nilai-nilai yang identik dengan peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Bukan untuk menggantikan orang tua mereka, melainkan menunjukkan bahwa negara melalui para pemimpinnya juga hadir untuk mendukung dan menguatkan setiap anak dalam meraih masa depan.

Kehadiran tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas dan buku pelajaran. Anak-anak juga membutuhkan perhatian, penghargaan, dan keyakinan bahwa ada banyak orang yang peduli terhadap perjalanan hidup mereka.
Saat tawa kembali pecah di sela-sela obrolan, suasana berubah menjadi begitu cair.

Anak-anak bebas bercerita tentang pelajaran, teman, hingga impian mereka. Sang bupati mendengarkan dengan antusias, sesekali menyemangati dan mengajak mereka terus belajar agar kelak mampu menggapai cita-cita.

Mungkin kebersamaan itu hanya berlangsung beberapa jam. Namun, bagi anak-anak, kenangan tentang seorang pemimpin yang duduk sejajar, tertawa bersama, dan memberikan perhatian tulus dapat menjadi bekal emosional yang berarti.

Di balik jabatan yang melekat, tersimpan pesan sederhana: kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan yang dibuat, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan empati. Dan di tengah tawa yang menghangatkan suasana bersama, terlihat bagaimana seorang bupati menunjukkan kepedulian layaknya figur orang tua yang memberi semangat, mengayomi, dan menemani anak-anak menatap masa depan dengan penuh harapan.(yahya)