DHARMASRAYA – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dharmasraya berencana menggelar rapat kerja dalam waktu dekat untuk menindaklanjuti dugaan adanya menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi, bahkan disebut-sebut berbelatung.
Rencana rapat tersebut muncul setelah adanya informasi dari masyarakat dan pemberitaan sejumlah media, yang memicu kekhawatiran terkait kualitas makanan dalam program MBG. DPRD menilai persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut kesehatan penerima manfaat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
“DPRD akan menjadwalkan rapat kerja terkait masalah MBG dengan dinas terkait” kata Ketua DPRD Dharmasraya, Jemi Hendra, Selasa (21/04/26) kemarin.
Ia mengatakan, agar pemerintah daerah melalui dinas terkait mengambil langkah tegas, meskipun saat ini telah di lakukan beberapa langkah oleh dinas terkait.
“Kita mendorong agar dinkes dan satgas untuk menyelesaikan investigasi,” tegasnya.
Jadi Sorotan
Kualitas menu MBG (Makanan Bergizi Gratis) menjadi sorotan setelah wali murid mengeluhkan temuan belatung dalam salah satu hidangan serta kondisi buah yang dinilai tidak layak konsumsi, di SDN 21 Pulau Punjung.
Keluhan ini mencuat setelah beredar vidio menu MBG yang di unggah oleh pemilik akun Tik Tik ketua Komite sekolah, pada Jumat (17/04/26). Dalam salah satu menu, warga mengaku menemukan belatung, sementara buah yang disediakan disebut banyak yang sudah busuk.
“Awalnya tidak curiga, tapi saat diperiksa ternyata ada belatung di makanan. Buahnya juga banyak yang lembek dan tidak segar,” kata Ketua Komite SDN 21 Pulau Punjung, Yani, Senen (20/04/26)
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terkait standar kebersihan dan kualitas makanan yang disalurkan, terlebih program MBG ditujukan untuk mendukung asupan gizi masyarakat.
“Vidio menu MBG berbelatung itu memang saya yang unggah, karena udah terlalu sering menu dari MBG ini tidak layak,” ucapnya.
Ia mengatakan, bahwa menu MBG yang berbelatung merupakan kali pertama. Namun, lanjutnya, soal menu buah buahan sering menjadi keluhan, karena sudah tidak layak.
“Keluhan itu sudah sering dan memang tidak semua, tapi tidak direspon oleh pihak SPPG,” jelasnya. (Yahya)

