Arief Kamil Wartawan Olahraga

Penasihat Semen Padang FC, Andre Rosiade dalam sebuah kesempatan mengatakan, jika untuk mengarungi Super League 2025-2026, manajemen Semen Padang FC hanya dibekali dana sebesar Rp15 miliar.

Angka yang terbilang kecil bagi kontestan liga elit tanah air. Untuk menambah kekurangan puluhan miliar, Andre mengaku mencari sponsor ke sana-sini.

Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Sekitar 20 miliar terkumpul, meski nilai itu ternyata tidak mencukupi juga.

Tak heran jika saat ini manajemen tim masih bermasalah menyangkut gaji pemain. Hal ini menjadi salah satu penyebab Semen Padang terpental ke Liga-2 musim depan.

Masalah ternyata tidak sampai di situ. Untuk Liga-2 musim 2026-2027, sponsor utama PT Semen Padang terlihat mulai menyerah. Target laba perusahaan tahun ini yang hanya Rp80 miliar, seperti yang disampaikan Andre Rosiade seakan memberikan gambaran bagaimana nasib tim ini ke depan.

Apakah mungkin dengan Rp80 miliar keuntungan, PT Semen Padang mau membakar uang setidaknya Rp20 miliar untuk Kabau Sirah pada Liga-2 nanti. Rasanya tidak.

Jika pun harus mengeluarkan dana sebesar itu, mungkin lebih realistis digunakan untuk kesejahteraan karyawan atau meng-upgrade perusahaan.

Sejak awal Semen Padang FC berdiri bertujuan sebagai media bertanding perusahaan melalui sepakbola. Nah, dalam kondisi perusahaan yang dinilai sulit, perlu dipertimbangkan tentunya branding melalui Semen Padang FC yang dilakukan sejak tahun 1980 masih dipertahankan.

Lalu, apakah Semen Padang FC masih ada tahun depan? Harusnya tetap ada. Sebab, tim ini memiliki rekam jejak dan sejarah panjang di belantika sepakbola tanah air. Jika suatu saat PT Semen Padang “angkat bendera putih” tim ini harus diselamatkan bersama.

Manajemen tim harus dipegang oleh kalangan profesional, saham klub harus dilepas. Urang awak harus bersatu. Pengusaha, penggila bola serta fans harus menyelamatkan tim ini.

Jika tidak, bisa jadi tim ini akan diambil alih oleh induk perusahaan Semen Padang FC, Semen Indonesia. Jika itu terjadi, ke depan nama tim bisa saja menjadi Semen Indonesia FC.

Atau jika Semen Indonesia tak sanggup mengakuasisi Semen Padang FC, tak tertutup kemungkinan Danantara sebagai pengelola aset strategis Semen Indonesia turun tangan, jadilah tim ini bernama Danantara FC.

Tim ini akan menambah jumlah klub milik negara di kompetisi kasta tertinggi sepakbola nasional setelah Adiyaksa FC dan Bhayangkara FC.

Ada atau tidaknya Semen Padang FC musim depan bakal bergantung pada publik Sumatera Barat. Tak hanya tokoh sepakbola, namun juga tokoh politik, pengusaha dan mereka yang memiliki kepentingan. Ayo, selamatkan Kabau Sirah! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *